Energi Positif

Menuai Kebaikan dari Energi Positif
untuk meraih rizki dan menolak bala’ (bencana, red), ternyata tak terlalu sulit. Tidak percaya? tanya saja pada trainer senior pada Kubik Leadership Training, Ir Jamil Azzaini MM. Ia mempunyai kiat khusus untuk itu, yaitu memperbanyak Epos, kependekan dari energi positif. ”Dengan begitu, maka maka kebaikan pun akan banyak datang,” tutur Jamil yang juga direktur Dompet Dhuafa Republika (DD) ini.

Jamil tak sedang berteori apalagi berangan-angan. Dampak positif dari pesan tersebut sudah dialaminya berkali-kali. Karena, semakin banyak epos yang dilakukan seseorang, maka sesungguhnya ia telah menabung begitu banyak kebaikan yang justru akan kembali kepada dirinya. Begitu sebaliknya, semakin banyak energi negatif yang ditebar seseorang, maka ia sesungguhnya sedang menanti keburukan yang pasti suatu saat dialaminya.

Tak berapa lama setelah bencana Tsunami terjadi, muncul keinginan kuat pada diri pria kelahiran Kutoarjo-Purworejo Jawa Tengah 9 Agustus 1968 ini, untuk membantu saudara-saudaranya di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Terutama, dalam mengembalikan semangat hidup di kalangan para guru. Untuk tugas kemanusiaan itu, ia merelakan kehilangan tiga kali pertemuan training yang kontraknya senilai satu sepeda motor terbaru.

Di NAD, dengan keikhlasan yang amat tinggi semata menggapai ridho Allah membangkitkan semangat hidup para guru. Suami dari Dwi Riani Julyastuti ini tak kenal lelah menemui para korban bencana Tsunami dan membimbingnya untuk bangkit. Ia tak menyangka kerjanya diamati oleh seorang direktur di sebuah bank syariah. Ujung-ujungnya, sang direktur memintanya melakukan training kepada sejumlah karyawannya di Jakarta.

Keajaiban tak hanya berhenti sampai di situ. Begitu selesai memberikan training pada para karyawan tersebut, ayah empat anak ini pun harus menandantangani kontrak untuk melakukan training di cabang bank yariah tersebut di seluruh Indonesia. ”Alhamdulillah, nilai kontraknya bisa membeli sejumlah motor baru,” candanya.

Kali lain, Jamil bersama keluarga pergi ke Lampung dan tidak membawa kendaraan. Waktu turun di Pelabuhan Bakauheuni yang ada hanya manusia dan tidak ada bis satu pun. Waktu itu masih pukul 06.30 WIB.

Ia tanya sama polisi, ”Pak, kalau saya ikut antri, jam berapa dapatnya?” Polisi itu menjawab, ”Mungkin kalau melihat orang segitu banyak sekitar pukul 17.00 WIB baru bisa dapat kendaraan.” Mendengar jawaban itu, Jamil pun lalu melayani orang lain. Misalnya, ada orang yang kelihatan mengantuk ia tawari kopi dan ia sendiri yang membelinya. Orang yang belum sarapan pagi, ia tawari teh dan mi instan. ”Setelah itu apa yang terjadi? 15 menit kemudian ada polisi wanita menawarkan, ”Bapak yang istrinya bawa bayi? Mari ikut saya.” Akhirnya, ia diantar bis yang ditunjuk Polwan itu sampai Bandar Lampung.

Jamil pun semakin yakin bahwa ”Apapun kebaikan yang kita lakukan pasti akan berbuah termasuk kita berbuat keburukan apapun pasti kita akan mendapatkan hasilnya.”

Ia menceritakan “berkah” dari perbuatan negatifnya. Saat itu, sang istri jatuh sakit dalam kondisi hamil. Upaya medis yang dilakukan nihil. Selesai shalat, ia mengadu, ”Ya Allah ya Tuhanku, gerangan energi negatif apa yang pernah aku lakukan. Maksiat apa yang pernah aku lakukan sehingga kau uji aku dengan penyakit ini.”

Setelah berdoa, tiba-tiba ia ingat kejadian beberapa puluh tahun yang lalu saya masih duduk di bangku kelas 5 sekolah dasar pernah mencuri uang ibu Rp 125. Kok ingatnya itu. ”Jangan-jangan energi negatif ini yang menghalangi sehingga penyakit istri saya tidak ketahuan,” batinnya. Kemudian ia menelepon ibunya untuk mengingatkan “kejahatan”-nya di masa kecil. ”Ibu saya bilang, karena uang itu mama tidak bisa bayar hutang lalu mama dicaci maki di depan banyak orang. Ia bersumpah, pokoknya kualat yang mengambil uang itu.”

Ia mengaku dosa pada ibunya melalui telepon. Sang mama memaafkan, dan mendoakan istrinya cepat sembuh. Kejaiban pun datang lagi. Pukul 12.45 WIB di hari yang sama ia mendapat telepon yang mengabarkan sakit istrinya sudah ditemukan, yaitu infeksi pankreas. ”Dan, saya semakin yakin bahwa kalau kita menebar energi negatif maka kita akan memperolah hasil yang negatif tapi kalau kita menebar energi positif, maka hasilnya adalah positif. Makanya yang tertanam pada saya adalah epos, epos, dan epos. ”

Dalam bentuk apa epos diwujudkan? banyak caranya, menurut Jamil. Senyum salah satunya. Juga sapaan lembut sepulang kerja kepada anak dan istri. Namun, energi positif yang besar adalah ketika kita mengajarkan ilmu. ”Makanya ketika saya sedang mengisi training sangat senang karena ketika saya mengajarkan ilmu yang hadir seratus orang maka saya akan mendapat kiriman energi positif dari seratus orang.”

Efek karambol pun terjadi di sini. ”Misalnya yang seratus menyampaikan lagi masing-masing kepada lima orang maka saya mendapat kiriman energi positif dari lima ratus orang.” Keberuntungan, menurut Jamil, adalah bentuk pencairan energi positif kita. Sebaliknya, kemalangan merupakan bentuk pencairan energi negatif. ”Makanya dalam Islam kalau ada orang sakit dosanya berkurang. Berarti ada tabungan energi negatif yang akan berkurang. Cuma supaya energinya dapat setiap perbuatan yang kita lakukan harus ada kesadaran hubungan dengan Allah. ‘Ya Allah, ini aku lakukan dalam rangka pengabdian dengan-Mu’, begitulah.”

Menurut Jamil, yang harus dipikirkan terus adalah memberi, bukan menerima. ”Apa yang sudah diberikan untuk anak saya? Apa yang bisa diberikan kepada isteri saya? Apa yang bisa berikan kepada teman saya? Pokoknya tidak bertanya: apa yang saya dapat dari Anda? Apa yang saya dapat dari istri? Apa yang saya dapat dari tetangga saya? Kalau itu yang kita pikirkan, maka kegelisahanlah yang ada dalam hidup kita.”

Tulisan ini saya paste dari sini dan saya secara pribadi pernah berbincang dan mengikuti training beliau. Luar biasa dan sangat menginspirasikan saya hingga ingin membuat blog ini )

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

Gravatar
WordPress.com Logo

Please log in to WordPress.com to post a comment to your blog.

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s